Pijat bayi memberi banyak manfaat bagi tumbuh kembang anak. Namun, ada beberapa hal yang patut jadi perhatian buat orangtua. (Foto: CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)

Jakarta, CNN Indonesia — Tumbuh kembang anak dapat tercapai dengan maksimal, salah satunya lewat stimulasi termasuk dengan pijat. Pijat pada bayi melibatkan berbagai aspek dasar perkembangan anak bawah dua tahun (baduta) seperti stimulasi sentuh, gerak, urut, pendengaran juga penglihatan.

Menurut Ina Rosalina Dadan, Direktur Pelayanan Kesehatan Tradisional, Kementerian Kesehatan RI, kegiatan pijat juga menguatkan bounding atau ikatan antara orang tua dan bayi. Selain itu, pijat juga akan memberikan sejumlah manfaat seperti menambah nafsu makan, anak jadi ceria, tidur lebih lelap, dan membantu relaksasi.

Saat ditemui usai pijat massal di lingkungan Kemenkes, Ina memberikan beberapa hal yang patut menjadi perhatian orang tua terkait pijat bayi.

1. Fokus hanya pada anak

Hal pertama yang ditekankan Ina ialah orang tua mesti fokus pada anak. Mungkin orang tua sudah mempersiapkan tempat yang nyaman, alas pijat yang empuk serta kuku tangan yang pendek, tapi hal yang utama tetap niat orang tua.

“Tentu tujuannya harus, saya mau ketemu anak saya. Saya memang mau menyentuh anak saya, jadi HP semua apapun yang mengganggu itu enggak ada dulu,” jelas Ina saat ditemui di Auditorium Siwabessy, Gedung Kemenkes, Jakarta Selatan, Selasa (7/11).

2. Ada komunikasi dengan anak

Sembari memijat, orang tua dapat mengajak anak bicara, bercerita atau menyanyi. Menurut Ina, meski anak belum bisa mendengarkan dengan baik, tapi hal ini mampu menguatkan ikatan dengan anak. Anak akan merasa dekat dengan orang tuanya.

3. Waktu terbaik

Waktu pijat juga perlu diperhatikan. Jangan sampai membangunkan anak hanya karena akan dipijat, memaksa anak untuk dipijat atau memaksakan posisi stimulasi pijatan tertentu.

“Waktu terbaik adalah di mana bayinya sudah tidur nyenyak, bangun segar. Jangan habis makan, habis minum, jangan lagi rewel, atau sakit,” tambah Ina.

4. Usia ideal

Pijat pada bayi dapat dimulai sejak bayi lahir. Namun, kata Ina, ibu-ibu kadang merasa takut dan memilih untuk memijat bayinya setelah tali pusar terputus secara alami atau puput.

Pijat dilakukan hingga bayi berusia kirang dari dua tahun. Bayi berusia dua tahun ke atas bisa dibilang sudah cukup besar dan agak sulit dipijat.

5. Bagian tubuh yang tidak boleh dipijat

Orang tua perlu memperhatikan bagian-bagian tubuh yang tidak boleh dipijat karena efeknya berbahaya untuk anak. Pemijatan biasa dilakukan dengan minyak sehingga tidak boleh terlalu dekat dengan mata atau selaput lendir. Orang tua juga tidak boleh memijit pada bagian ubun-ubun. Ina mengingatkan, ubun-ubun bayi di bawah dua tahun belum terbentuk sempurna.

“Ulu hati juga tidak boleh, anak masih terlalu kecil, lalu bagian tulang belakang,” tambahnya.

6. Pijat dengan minyak

Pijat disarankan menggunakan minyak yang tidak menimbulkan iritasi pada kulit bayi. Minyak seperti minyak kelapa atau baby oil yang biasa ditemui di pasaran, kata Ina, aman digunakan bagi bayi.

Jangan menggunakan minyak telon. Pijatan melingkupi area wajah bayi, sehingga penggunaan minyak telon tidak tepat dan tidak sesuai dengan manfaat yang ingin didapat.

7. Dilakukan tiap hari

Jika pijat di tukang pijat atau baby spa memerlukan biaya, maka pijat di rumah sendiri tentu akan lebih murah. Selain itu, frekuensi pijat juga bisa lebih sering. Ina menyarankan, orang tua memijat bayinya setiap hari selama paling tidak 10-15 menit.

“Kalau cuma seminggu sekali enggak ada gunanya. Nanti lihat bedanya, bayi yang sering dipijat ibunya sama yang tidak,” ujarnya. (rah)

Sumber:https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20171107192605-255-254160/7-hal-yang-harus-diperhatikan-saat-memijat-bayi/

LEAVE A REPLY