Jakarta, CNN Indonesia — ODHA juga manusia. Perlu untuk hidup layak dan terus berkembang.

Stigma negatif terhadap Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA) di Indonesia masih sangat kuat. Hal ini disebabkan oleh pengetahuan yang masyarakat Indonesia miliki. Saat ini pemahaman masyarakat akan isu HIV/AIDS sifatnya masih dasar dan di permukaan. Namun, sayangnya pengetahuan yang masih dasar tersebut terhitung keliru.

Pengetahuan yang keliru atau salah tersebut justru menimbulkan ketakutan-ketakutan yang sifatnya kelompok pada masyarakat. Ketakutan tersebut membuat mereka menstigma ODHA dengan menjauhi dan menyudutkan ODHA. Mereka ketakutan dapat tertular virus apabila beraktivitas bersama baik melalui udara atau kontak fisik lainnya, padahal hal ini sangatlah keliru.

Human Immunodeficiency Virus (HIV) dan Aquired Immunoideficiancy Syndrome (AIDS) sampai saat ini masih merupakan penyakit yang paling menakutkan, karena orang yang sudah mengidap penyakit ini seakan hidupnya sudah berakhir. Di Indonesia orang yang sakit HIV/AIDS ini disebut sebagai ODHA.

Menurut catatan yang dikeluarkan oleh UNAIDS (United Nations Programme on HIV/AIDS) dalam laman http://www.unaids.org/, Indonesia memiliki beban penderita HIV di seluruh penjuru negeri dengan prevelensi sebesar 0,40 persen.

Hal ini didorong oleh penggunaan obat-obat melalui jarum suntik dan penularan melalui aktifitas seksual. Data kasus HIV di Indonesia tahun 2014 sebanyak 691.040 jiwa, tingkat kematian sebesar 69,316 jiwa. Pada tahun 2015 kasus HIV/AIDS bertambah 72,062 jiwa. Kasus HIV di Indonesia terkonsentrasi di Pula Jawa-Bali, Sumatera dan Sulawesi.

Sementara itu, ODHA perlu berbaur dengan masyarakat dan hidup layak di tengah masyarakat. ODHA tetap merupakan manusia yang sama dengan manusia lainnya dalam hal ini memiliki hak dan kewajiban yang sama. ODHA memiliki hak hidup dan memiliki potensi-potensi yang bisa berkembang apabila berada dalam lingkungan yang kondusif.

Namun, karena stigma yang ada di masyarakat terkait penderita HIV/AIDS ini yang sebenarnya merupakan implikasi dari rendahnya pengetahuan terkait penyakit ini membuat masyarakat cenderung menghindari dan memojokkan ODHA.

Dalam persoalan ini media massa berperan sebagai medium untuk menyosialisasikan penyakit HIV/AIDS karena melalui media massa pesan dapat sampai dengan cepat dan dapat menjangkau khalayak secara serempak. Hal ini sesuai dengan fungsi dari komunikasi massa bagi masyarakat di antaranya, fungsi pengawasan, penafsiran, keterkaitan, penyebaran nilai, dan hiburan (Dominick, 2001).

Pemahaman masyarakat mengenai HIV/AIDS masih minim sehingga stigma terhadap ODHA masih banyak, maka dari itu peran kampanye kesehatan melalui media massa (pemberitaan) merupakan bagian dari jurnalistik kesehatan yang tidak semata-mata memberi informasi, melainkan mengandung unsur pendidikan.

Sayangnya berdasarkan pengamatan atas pemberitaan HIV/AIDS di media massa oleh penulis, dalam prakteknya media massa masih ada yang memberitakan isu ini dengan justru memberikan stigma dan diskriminasi terhadap ODHA di dalamnya. Isu-isu ini pun masih dikemas dengan kuantitas yang sedikit dan kualitas yang masih di permukaan saja.

Perlakuan terhadap ODHA pada masyarakat yang dinilai masih menstigma terdapat dua faktor utama. Pertama, karena pengetahuan dan pemahaman masyarakat terkait bagaimana virus HIV/AIDS bisa menular masih salah. Mereka khawatir akan tertular apabila ada satu anggota keluarganya yang positif tertular virus tersebut, seperti penularan lewat udara, kontak fisik, dan menggunakan alat makan bersama.

Penilaian tersebut tentunya keliru, pada dasarnya penularan hanya bisa dilakukan lewat seks bebas yang menyimpang, penggunaan jarum suntik, dan interaksi darah dalam tubuh (misalnya terkena darah ODHA yang terluka).

Faktor kedua karena faktor moral. Keluarga merasa malu apabila ada anggota keluarganya yang tertular virus HIV/AIDS karena akan dikaitkan dengan perilaku amoral yang ada dalam pandangan masyarakayt. Oleh karena itu, keluarga justru ikut menjauhi bahkan membuang ODHA tersebut.

Membahas isu HIV/AIDS yang bertujuan untuk mengedukasi masyarakat memang bukan hal yang mudah. Isu ini memiliki pembahasan yang sangat kompleks dan memiliki sensitivitas yang tinggi. Oleh karena itu, jurnalis memang harus sangat berhati-hati dalam melakukan pemberitaan dengan mempertimbangkan nilai-nilai jurnalistik dan juga kepentingan ODHA agar tidak merugikan mereka.

Hal ini selaras dengan pernyataan dari Vincent yang merupakan aktivis HIV/AIDS sekaligus mengurusi bagian Media di Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Rumah Cemara yang berlokasi di Bandung ini. Menurutnya, dalam melakukan pemberitaan soal HIV/AIDS pada media massa memang harus dimulai dari layer per layer. Artinya, informasi yang disampaikan harus bertahap dan konsisten. Dengan begitu, permasalahan HIV/AIDS pada kasus tertentu bisa terbuka secara perlahan berdasarkan layer-layer tersebut.

Selama ini pemberitaan dan kampanye-kampanye yang dilakukan cenderung membawa pembaca terlalu jauh dalam menyampaikan isu HIV/AIDS. Misalnya, pembaca langsung diarahkan pada layer pengetahuan mengenai bagaimana dampak akhir dari ODHA yakni digambarkan dengan orang yang sangat kesakitan, kurus dan kering keronta yang siap menghadapi kematian.

Seharusnya layer pemahaman yang diberikan dan diperdalam adalah seputar penularan, treatment, dan gaya hidup. Hal ini disebabkan kondisi para ODHA tentunya memiliki tingkat kadar virus yang berbeda, maka pengetahuan yang dimiliki pun haruslah bertahap pada masyarakat agar dapat berlaku bijak dalam memperlakukan ODHA dengan tepat.

Untuk itu, menurut Vincent media massa memiliki peran yang sangat penting dalam mengedukasi masyarakat terkait isu ini. Apalagi media online yang saat ini lebih mudah dan cepat diakses oleh publik. Meskipun, menurutnya media massa memang masih sedikit dalam menonjolkan isu ini.

Hal ini memang disadari karena media memiliki agenda kerja. Namun, Vincent memang menjelaskan bahwa media perlu menyampaikan informasi secara bertahap sesuai dengan tahapan informasi yang perlu diketahui oleh masyarakat dan memberikan informasi yang berimbang bukan hanya sekedar untuk memenuhi kebutuhan click byte pada media online saja.

Apabila terkendala dengan jumlah ruang pada media cetak ataupun karakteristik pemberitaan pada media online, maka sudah menjadi tugas jurnalis untuk mengemas tulisan dengan jelas, padat, dan berimbang. Selain itu, jurnalis sangat perlu melakukan riset yang baik agar tulisan dapat berimbang dan jauh dari stigma/diskriminasi pada ODHA.

Hilda Julaika
Mahasiswa Prodi Ilmu Jurnalistik, Fikom, Universitas Padjadjaran. (ded/ded)

Sumber:https://student.cnnindonesia.com/inspirasi/20180103095640-454-266243/memanusiakan-odha-lewat-media-massa

LEAVE A REPLY