Robot pengantar barang (Foto: REUTERS/Moritz Hager)

Jakarta,¬†CNN Indonesia¬†— Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti menyampaikan bahwa perkembangan teknologi digital telah mengubah tatanan perekonomian. Diprediksi, akan banyak pekerjaan yang menghilang digantikan oleh komputer cerdas.

Oleh karena itu, sebagai antisipasi perguruan tinggi harus mau mengubah kurikulum pembelajaran yang mendorong mahasiswa dan lulusan kampus semakin adaptif dengan dinamika di dunia kerja.

Saat memberikan kuliah umum di Aula Universitas Pasundan, Selasa (14/11) lalu, Menteri Kelautan dan Perikanan menjelaskan, perguruan tinggi tidak akan kesulitan mengubah atau merevisi kurikulum agar sesuai dengan perkembangan.

Susi Pudjiastuti juga menyarankan agar mendorong rakyat kembali ke sektor riil. Pasalnya, ke depan pekerjaan konvensional akan hilang. Selain itu, kalau memakai kurikulum yang lama, akan ketinggalan. Di sinilah kampus harus mau membuka diri dan mengikuti perkembangan teknologi informasi (Pikiran Rakyat, 15/11).

Sektor Riil
Sistem perekonomian Indonesia terdiri dari sektor riil dan sektor keuangan. Sektor riil yang dimaksud yaitu sektor ekonomi yang terkait dengan produksi yang menghasilkan suatu barang, seperti: pabrik, perdagangan, pertanian, pertambangan, dan sebagainya. Faktor yang berpengaruh kuat dalam sektor riil adalah sumber daya manusia (SDM). Sumber daya manusia berperan penting dalam membangun perekonomian Indonesia melalui sektor riil.

Keterampilan, kemampuan, dan investasi di bidang pendidikan dan pelatihan merupakan kunci untuk pembangunan ekonomi dan sosial. Tidak hanya pada sudut pandang keterampilan dan kemampuan saja, akan tetapi sumber daya manusia kita perlu ditingkatkan, dengan menigkatkan kualitas pendidikan. Kondisi pendidikan dan kesehatan yang baik merupakan prasyarat terbentuknya sumber daya manusia yang berkualitas, yang nantinya akan menghasilkan produktivitas yang tinggi.

Perkembangan teknologi dan informasi, serta sumber daya manusia Indonesia akan menjadi tanpa batas. Namun, keterampilan yang dimiliki sumber daya manusianya terbatas. Misalnya lulusan perguruan tinggi dalam bidang pendidikan, pembelajaran yang diajarkan belum bisa mendorong mahasiswa ke arah yang sesuai dengan perkembangan dinamika sektor ekonomi. Di masa mendatang bisa jadi manusia dapat digantikan dengan intelegensi artificial (artificial intelligence) di mana seluruh pekerjaan manusia akan digantikan oleh mesin (komputer).

Untuk mencegah hal tersebut, saya sependapat dengan yang dipaparkan oleh Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti, bahwa sistem pendidikan kurikulumnya harus diubah. Agar bangsa ini memiliki sistem pendidikan dan pelatihan yang mumpuni, sehingga lulusannya mampu menjadi lulusan yang produktif dan mampu bersaing.

Dalam upaya tersebut, pemerintah mulai memikirkan bahwa dunia pendidikan tidak hanya untuk mencetak lulusan yang siap kerja, melainkan juga lulusan yang siap menciptakan lapangan kerja baru. Saat ini, semakin majunya teknologi maka membuat lapangan pekerjaan yang selama ini ada, akan hilang. Misalnya, sistem pembayaran tol, yang dulunya menggunakan jasa manusia untuk transaksi keluar-masuk tol, sekarang beralih menggunakan mesin otomatis.

Memang hal tersebut ada bagusnya, negara Indonesia mulai memanfaatkan perkembangan teknologi dalam memajukan infrastrukturnya. Dengan menggunakan mesin, bisa mengefisienkan waktu menjadi cepat dibanding manusia yang kecepatannya standar. Munculnya fenomena disruption yaitu menggantikan manusia dengan teknologi baru, maka para tenaga terampil tidak akan dibutuhkan lagi. Keterampilan yang dimiliki manusia akan diganti dengan sistem digital atau mesin atau bahkan robot.

Kondisi sekarang ini, diperlukan para lulusan yang bukan hanya memiliki kepintaran dan keterampilan atau keahlian, melainkan harus memiliki mental, yang kuat, menjauhi sikap malas, percaya diri, dan mampu berpikir positif serta dalam dirinya harus ditanamkan sikap bersaing. Perguruan tinggi menjadi salah satu jalan dari ribuan jalan untuk membentuk lulusan yang produktif dan adaptif.

Pembelajaran yang digunakan di perguruan tinggi, ada baiknya tidak selalu mengajarkan teori dan praktek saja. Melainkan didampingi dengan pembelajaran tentang kewirausahaan, agar dapat membangun pola pikir bekerja keras, dan tidak takut gagal. Kelak, para lulusan yang tidak bekerja di perusahaan, mampu menciptakan usaha dan membuka lapangan pekerjaan bagi yang lain. Dengan mempersiapkan lulusan atau sumber daya manusia yang telah terbentuk, Indonesia tidak risau bila mengalami minim lapangan pekerjaan.

Perguruan tinggi dan pengangguran
Perguruan tinggi merupakan wadah pendidikan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan menjadi salah satu jalan untuk kemajuan suatu bangsa. Perguruan tinggi dianggap memiliki peran yang terhormat dibandingkan pendidikan di bawahnya.

Sebagian masyarakat berpikir bahwa orang yang melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi akan mendapatkan pekerjaan yang lebih baik dari lulusan lainnya. Memang benar, perguruan tinggi dapat menjadi jembatan dan memberikan peluang yang lebih besar untuk mendapatkan pekerjaan yang terbaik, karena calon pekerja yang mempunyai latar belakang dari perguruan tinggi akan lebih dipercaya sebagai orang yang memiliki keterampilan dan lebih terasah kemampuannya.

Tapi, sebenarnya tidak semua lulusan perguruan tinggi itu memiliki keterampilan dan kemampuan yang lebih baik dibandingkan dengan orang yang bukan lulusan perguruan tinggi. Mahasiswa di perguruan tinggi banyak tipenya, yaitu mahasiswa yang hanya datang kuliah kemudian pulang, mahasiswa yang jarang hadir kuliah karena sibuk berorganisasi sehingga proses belajar di kelas terbengkalai, dan ada juga mahasiswa yang benar-benar ingin belajar dan mengembangkan kemampuannya. (ded/ded)

Sumber:https://student.cnnindonesia.com/inspirasi/20171127104647-454-258275/sebelum-manusia-digantikan-robot/

LEAVE A REPLY