Penyakit tuberculosis disebut menjadi penyakit menular paru-paru paling berbahaya di sepanjang 2016. WHO menilai upaya cegah penyebaran TBC masih rendah. (Foto: Thinkstock/Wavebreakmedia Ltd)

Jakarta, CNN Indonesia — Penyakit¬†Tuberculosis (TB) atau biasa disebut TBC menjadi penyakit menular paru-paru paling berbahaya di 2016. Penyakit tersebut juga menjadi penyebab kematian paling tinggi untuk penderita HIV.

Pada 2016 diperkirakan terdapat 10,4 juta kasus TBC di seluruh dunia, dan 10 persen diantara penderitanya juga mengidap HIV.

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengungkapkan bahwa usaha untuk melawan TBC telah menyelamatkan hampir 53 juta jiwa sejak tahun 2000, dan menurunkan tingkat kematian akibat penyakit tersebut hingga 37 persen.

Meski demikian, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menjelaskan bahwa aksi pencegahan penularan TBC ternyata belum mencapai target global dan regional yang diinginkan. Tantangan lain yang dihadapi ialah upaya yang belum maksimal dalam menutup kesenjangan perawatan dan pencegahan TBC.

“Kekurangan dalam pendanaan TBC ialah salah satu alasan utama mengapa kemajuan tidak cukup cepat untuk mencapai akhir target TBC,” jelas koordinator Monitoring and Evaluation Unit, Global TB Programme WHO, dokter Katherine Floyd, seperti dikutip dari¬†UN News Center,beberapa waktu lalu.

“Kita memiliki tantangan ganda. Pendanaan yang lebih domestik sangat diperlukan di negara berpenghasilan menengah, dan diperlukan dukungan donor internasional untuk mendukung negara berpenghasilan rendah,” lanjutnya.

Dalam studi Global TB Report 2017 dijelaskan bahwa dengan meniadakan kesenjangan perawatan, dan pendanaan di negara dengan kasus TB tinggi merupakan salah satu cara untuk mengakhiri wabah tersebut.

Direktur Jenderal WHO, Adhanom Ghebreysus mengungkapkan bahwa terdapat ketidaksinambungan antar retorik politik dengan aksi untuk mengakhiri wabah TB pada 2030. Ia mengungkapkan bahwa pendekatan multisektor, dinamis, dan global sangat diperlukan.

Meskipun pengobatan dan pencegahan bergerak pesat di dua sektor pasien prioritas, yakni penderita HIV dan anak di bawah usia 5 tahun, masih banyak orang yang belum mendapatkan akses pengobatan dan pencegahan TB.

Terdapat hampir setengah juta kasus TB terkait HIV dan 15 persen di antaranya tidak menggunakan terapi antiretroviral WHO. Sementara itu obat resistan multi fungsi Rifampicin juga menjadi krisis kesehatan karena ditemukan 600.000 kasus, di mana terdapat perlawanan terhadap obat tersebut.

“Jumlah kematian dan penderita berbicara dengan sendirinya, kita tidak cukup cepat. Aksi yang cepat untuk kesehatan universal dan perlindngan sosial, serta terobosan dalam penelitian juga inovasi sangat penting untuk akses perawatan pasien dengan standar tinggi untuk semua. Terutama orang-orang miskin dan tidak beruntung di mana pun,” jelas direktur WHO Global TB Programme, dokter Mario Raviglione.¬†(tab)

Sumber:https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20171103213602-255-253384/who-ungkap-upaya-cegah-penularan-tbc-masih-rendah/

LEAVE A REPLY