Jakarta, CNN Indonesia — Sekalipun menyehatkan dan cocok untuk diet, namun satu hal yang membuat orang enggan makan apel adalah daging buahnya yang mudah berubah warna.

Untuk mencegah apel berubah warna jadi cokelat, cara paling mudah adalah dengan memberikan air jeruk lemon atau jeruk nipis ke potongan apel.

Daging buah apel akan berubah warna jadi cokelat karena adanya aktivitas sel perusak yang disebut polifenol oksidase (PPO).
Ketika sel apel rusak karena dipotong, digigit, atau dilukai, enzim polifenol oksidase (PPO) memulai reaksi kimia yang mengubah daging buah menjadi coklat. Kecepatan apel berubah warna jadi coklat ini berbeda-beda tergantung tingkat PPO-nya.

Kini, Anda tak perlu lagi menambahkan jeruk nipis ke potongan apel karena para ahli menciptakan varian apel yang tak akan berubah warna.

Arctic apple atau apel artik adalah apel rekayasa genetika pertama dunia yang diklaim tak akan berubah jadi cokelat setelah dipotong atau diiris. Apel ini dikembangkan oleh perusahaan Kanada Okanagan Specialty Fruits.

Daging apel artik ini diklaim akan mempertahankan warna segarnya sampai beberapa hari setelah dipotong.

Presiden Okanagan Neil Carter dan istrinya Louisa menghabiskan waktu 20 tahun terakhir untuk mengembangkan apel artik untuk mengurangi limbah apel. Mereka mulai menanam pohon apel pertamanya dari varietas golden delicious dan granny smith pada 2003 lalu. Sejak saat itu, bertahun-tahun mereka menguji buah yang dimodifikasi secara genetik untuk memastikan apelnya tidak menimbulkan risiko kesehatan atau lingkungan.

Menurut bukti yang mereka sampaikena ke Departemen Pertanian AS, apel artik sama seperti apel konvensional, hanya saja tanpa perubahan warna daging buah jadi cokelat.

“Apel artik memiliki PPO yang lebih sedikit dan membuat daging buahnya tak berubah jadi cokelat, tapi pohonnya sama seperti pohon apel lainnya,” tulis laman apel artik dikutip dari Oddity Central. 

“Buahnya sama sehatnya (dengan apel lainnya) dan tak tak punya protein baru. Dan meskipun buah arctic granny punya nutrisi yang sama dengan granny smith, varietas apel artik ini tidak memiliki reaksi berubah warna jadi cokelat (browning reaction) yang akan ‘membakar’ nutrisi penting seperti vitamin C dan antioksidan.”

Carter sendiri mengungkapkan bahwa rekayasa genetik yang dilakukan untuk menekan reaksi enzim PPO ini tidak berpengaruh pada rasa dan kualitas. Dalam penelitiannya, mereka mengindentifikasi empat gen yang bertanggung jawab untuk produksi PPO. Mereka pun melakukan rekayasa genetika untuk ‘membungkam’ gen tersebut dan menekan produksi PPO.

Mereka mengklaim bahwa PPO yang dihasilkan apel sama sekali tak ada gunanya, selain membuat orang harus memakan apel iris secepatnya. Oleh karenanya mereka mengklaim pula kalau menghentikan produksi PPO lewat manipulasi genetika sama sekali tak punya efek buruk.

“Kami melihat ini hanya punya sedikit peran rekayasa genetik, namun lebih banyak untuk kenyamanan,” kata Carter kepada The Washington Post.

Namn tak semua konsumen ternyata nyaman dengan hal tersebut. Kritikus GMO mengungkapkan bahwa hal tersebut tidaklah penting dan belum dipelajari.

Beberapa kritik lainnya mengungkapkan bahwa dengan ‘membungkam’ produksi PPO, perusahaan Carter bisa membohongi konsumen tentang kesegaran buah yang mereka jual.

“Sama seperti apel lainnya, apel artik juga akan membusuk, berubah kecoklatan karena jamur atau infeksi bakteri,” kata perusahaan Okanagan.

Apel hasil rekayasa genetik ini akan mulai dijual di Amerika pada November. Namun sampai saat ini reaksi masyarakat masih terbagi dua, ada yang tertarik dengan tawaran tersebut atau tak mau membelinya karena khawatir akan buah transgenik.

Sumber:https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20171023103212-262-250260/as-punya-apel-rekayasa-genetik-yang-tak-akan-berubah-cokelat/

LEAVE A REPLY