Blog Page 67

Catatan Hitam Pendakian Gunung

0

Jakarta, CNN Indonesia — Hari Gunung Internasional diperingati setiap 11 Desember. Tentunya hari ini sudah tak asing bagi para pendaki Indonesia maupun mancanegara.

Bagi sebagian orang, mendaki gunung bukan hanya ajang untuk berolahraga tapi telah menjadi hobi yang mendarah daging. Bagaimana tidak, dalam setiap pendakian pastinya selalu ada cerita yang meninggalkan kesan tersendiri. Dengan mendaki kita tidak hanya bisa mendapatkan tubuh yang sehat, tapi juga mendapat kenalan baru dan kepuasan tersendiri.

Dalam pendakian pun kita dapat lebih mengenal diri sendiri seperti yang ditulis oleh seorang penyair sekaligus pendaki asal Selandia Baru, Edmund Hillary: “Kita tidak akan pernah mampu menaklukan gunung, karena bukan gununglah yang kita taklukan, melainkan diri kita sendiri.”

Kata mutiara tersebut sedikitnya menggelitik kita untuk mencari siapakah sebenarnya diri kita ini.

Kita tahu, Tuhan menciptakan gunung dan alam yang begitu banyak memberi manfaat. Namun, tak dapat dipungkiri, hingga saat ini masih saja ada oknum-oknum pendaki jahil yang malah merusak keasrian gunung dengan melakukan vandalisme dan membuang sampah sembarangan. Perilaku tersebut tentu saja akan mengganggu pemandangan dan merusak ekosistem gunung.

Di sisi lain, kegiatan mendaki gunung tak lepas dari risiko yang kemungkinan dapat dialami oleh para pendaki yang tidak melakukan persiapan total sebelum mendaki. Hingga kini, angka kecelakaan dan atau kematian di gunung masih saja dapat ditemukan dari waktu ke waktu.

Kematian tersebut dapat disebabkan oleh berbagai hal di antaranya: kondisi badan yang kurang sehat, kekurangan oksigen, hipotermia, terjatuh, dan sebagainya. Contohnya selama 2017 ini tercatat beberapa pendaki Indonesia harus meregang nyawa dalam kegiatan pendakian dengan berbagai penyebab.

Januari lalu, dua mahasiswa Universitas Islam Indonesia Yogyakarta meninggal setelah mengikuti kegiatan pendidikan dasar pecinta alam di Gunung Lawu, Tawangmangu, Jawa Tengah. Disusul dengan meninggalnya mahasiswi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta karena terjatuh ke jurang di Gunung Sumbing, Magelang. (Liputan6.co 22/1).

Pada Maret, dua mahasiswa Universitas Halu Oloe meregang nyawa di Gunung Mekongga, Kecamatan Wawo, Kolaka Utara, Sulawesi Tenggara. Serangan hipotermia menjadi penyebab tewasnya kedua korban. Kedua jenazah bahkan sulit dievakuasi karena terkendala badai. (Sindonews.com 14/3).

Sedangkan, pada 4 April seorang siswi kelas dua SMA tewas setelah terjatuh di Gunung Bambapuang, Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan. Korban bernama Lulu Prapti Ningsih ini awalnya mendaki bersama rekannya Asman dan Ade, nahas ia terpeleset dan jatuh hingga tewas. (Sindonews.com 4/4).

Pada Mei, seorang pendaki bernama Athina meninggal dunia di Gunung Semeru, Lumajang, Jawa Timur setelah tertimpa batu besar di tengah pendakian. Kejadian serupa dialami oleh M. Ridwan pada 13 September lalu. Ridwan adalah pemandu sebuah rombongan pendaki berisi sepuluh orang asal Surabaya. Nahas ketika turun gunung ia tertimpa bongkahan batu besar di gunung yang sama. (detik.com 14/5 dan 13/9).

Pada Oktober, Ahmad Hadi pendaki asal Jakarta tewas karena kehabisan oksigen ketika turun dari Puncak Carstensz Pyramid, Kabupaten Mimika Papua. Korban meninggal 8 Oktober sekitar pukul 21:00 WIT dan baru dapat diinformasikan keesokan harinya. (Sindonews.com 10/10)

Pada Agustus, seorang pendaki bernama Sularno dikabarkan tewas setelah mengikuti upacara Hari Ulang Tahun Republik Indonesia di puncak Gunung Lawu, Magetan, Jawa Timur. Korban meninggal akibat kelelahan dan hipotermia. (Sindonews.com 22/8).

Sebelumnya pada 3 Agustus, tiga pendaki asal Jerman dilaporkan terjatuh ke jurang kedalaman 15 meter di Gunung Agung, Karangasem. Terge Zense, Ricet Sremaem, dan Fransiskus Bermaum berhasil diselamatkan tim SAR setelah tiga jam proses pencarian dan evakuasi. Akibatnya, mereka menderita luka-luka di bagian kepala dan tangan. (Sindonews.com 03/08).

Peristiwa-peristiwa di atas adalah sebagian kecil dari keseluruhan kecelakaan dan korban tewas yang terjadi di tengah pendakian. Jumlah ini tentunya belum termasuk kecelakaan-kecelakaan di gunung-gunung di luar Indonesia.

Catatan hitam ini seharusnya dapat menjadi cermin pembelajaran bagi kita agar tidak mengalami hal yang sama. Persiapan yang matang harus dilakukan sebelum mendaki, misalnya, cek kesehatan, lengkapi perbekalan termasuk obat-obatan pribadi, menyewa pemandu, tidak memaksakan diri, dan yang terpenting adalah selalu berdoa kepada Tuhan agar terlindung dari mara bahaya.

Perlu kesadaran pribadi dalam diri untuk tidak melakukan hal-hal yang dapat merugikan diri sendiri dan lingkungan sekitar. Jika belum siap mendaki gunung yang tinggi maka alangkah lebih baik jika mencoba terlebih dahulu gunung-gunung yang lebih rendah.

Jangan memaksakan naik jika di luar batas kemampuan kita. Karena sesungguhnya, yang mengetahui kemampuan diri kita adalah diri kita sendiri. Mendaki gunung bukanlah kegiatan yang bisa dianggap sepele. Banyak sekali aturan dan hal-hal yang perlu diperhatikan.

Dalam hal ini, pihak pengelola gunung serta pemerintah pun sangat berperan penting dalam menjaga keselamatan para pendaki. Bila perlu, jalur pendakian bisa ditutup jika memang terbukti membahayakan para pendaki.

Di Hari Gunung Internasional ini semoga para aktivis pecinta alam dan pemerintah yang berwenang dapat mensosialisasikan bagaimana cara mendaki yang baik dan benar guna meminimalisir atau bahkan menghilangkan angka kecelakaan di gunung. (ded/ded)

Sumber:https://student.cnnindonesia.com/edukasi/20171214123756-445-262331/catatan-hitam-pendakian-gunung

Teh Celup di Kantor Punya Banyak Bakteri daripada Toilet

0

Studi dari Initial Washroom Hygiene mengungkapkan bahwa kantong teh celup di kantor memiliki kuman 17 kali lebih banyak dibanding dudukan toilet. (condesign/Pixabay)

Jakarta, CNN Indonesia — Saat hujan turun dan AC kantor semakin membuat udara dingin, ini saat yang tepat untuk mulai menyeduh secangkir teh hangat.

Namun ada baiknya saat membuat teh, pakailah teh khusus milik Anda sendiri. Pasalnya, sebuah studi mengungkapkan bahwa teabag atau teh celup milik umum yang ada di pantry kantor ternyata mengandung banyak kuman.

Studi dari Initial Washroom Hygiene mengungkapkan bahwa kantong teh celup di kantor memiliki kuman 17 kali lebih banyak dibanding dudukan toilet.

Jumlah rata-rata kuman di kantong teh kantor adalah sekitar 3.785. Sedangkan di dudukan toilet hanya 220.

Bagaimana mungkin kantong teh celup bisa memiliki begitu banyak kuman, bahkan dibanding toilet?

Mengutip Independent, hal ini disebabkan oleh banyaknya orang di kantor yang mengambil kantung teh celup dalam wadah. Percaya atau tidak, banyak orang yang masih enggan untuk mencuci tangan sebelum membuat minuman atau mengambil makanan.

Jajak pendapat dari studi yang menganalisis jumlah bakteri di peralatan dapur ini mengungkapkan bahwa 80 persen dari 1.000 orang yang bekerja di kantor tak berpikir untuk mencuci tangan saat ingin membuat minuman sendiri atau minuman untuk orang lain.

Bayangkan jumlah bakteri yang mungkin menempel bila ada banyak tangan kotor yang memegang kantong teh celup dan peralatan dapur lainnya.

“Pikirkan jumlah tangan yang berbeda-beda menyentuh berbagai benda seperti pegangan ketel, kantong teh, cangkir, dan lainnya, potensi kontaminasi silang akan benar-benar bertambah,” kata Peter Barrat dari Initial Washroom Hygiene.

Selain kantong teh celup, kuman juga banyak tersimpan di berbagai peralatan dapur lainnya.

Dalam temuan di studi ini, ada 2.483 kuman di pegangan ketel, 1.746 di pinggir cangkir bekas pakai, dan 1.592 di pegangan pintu lemari es.

Kuman-kuman ini kemungkinan akan menyebarkan norovirus. Norovirus ini diketahui menyebar dengan cepat melalui sentuhan di permukaan yang terkontaminasi atau makan makanan yang penuh bakteri.

Pastikan Anda untuk melakukan pencegahan dengan mencuci tangan, membersihkan permukaan peralatan, dan mencuci pakaian yang berisiko terkontaminasi.

“Pakai tisu antibakteri di permukaan dapur dan bersihkan cangkir secara teratur bisa memberi keuntungan besar untuk menjaga kesehatan.”

(chs)

Sumber:https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20171215091004-255-262570/teh-celup-di-kantor-punya-banyak-bakteri-daripada-toilet

Kemenkominfo Buka Lelang Satelit Pemerintah Tahun Depan

0

Pemerintah berambisi memiliki satelit sendiri pada 2022. Tahun depan pemerintah akan membuka lelang satelit itu (dok. AFP PHOTO / CNES)

Jakarta, CNN Indonesia — Kementerian Komunikasi dan Informatika berencana akan melakukan lelang untuk proyek satelit pemerintah. Lelang ini akan dilakukan tahun depan.

Lelang dibuat untuk menentukan badan usaha yang merancang dan meluncurkan satelit tersebut. Adapun, masa operasi satelit tersebut diperkirakan berdurasi 15 tahun.

Satelit yang dirancang dan diluncurkan itu adalah satelit pemerintah. Setelah diluncurkan satelit itu akan dikelola, dimiliki, dan dikendalikan sendiri oleh pemerintah.

“Ini bukan satelit komunikasi biasa yang dimiliki televisi atau telepon, tapi namanya satelit internet berkecepatan tinggi,” jelas Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara, saat ditemui di acara Inclusive Business yang digelar di kawasan Gambir, Jakarta, Rabu (13/12).

“Tahun 2018 akan ditetapkan siapa yang akan merancang, membangun, dan meluncurkan satelit,” lanjutnya.

Menurut dia, satelit ini nantinya akan digunakan sebagai tulang punggung koneksi sekolah di seluruh Indonesia. Ia mengatakan, ada 226 ribu sekolah dari Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama, dan Sekolah Menengah Atas yang perlu dihubungkan dengan internet.

Hal ini mengingat ujian nasional kini sudah berbasis komputer. Namun, hingga saat ini, baru 80 ribu sekolah saja yang sudah terhubung koneksi internet. Mimpinya, nanti seluruh kegiatan belajar mengajar akan memanfaatkan internet, tak cuma saat pelaksanaan ujian nasional saja.

Tak hanya itu, satelit ini pun akan digunakan untuk menyambungkan informasi antar Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) di seluruh Indonesia. Ia bilang, dari 10 ribu Puskesmas yang ada, baru sekitar 30 persen yang terhubung internet.

“Selain itu, ada Koramil, Polsek, dan kantor desa sebanyak 75 ribu gedung yang perlu dihubungkan,” paparnya.

Ia melanjutkan, satelit ini merupakan pendukung satelit Palapa Ring. Hanya saja, palapa ring hanya bisa menjakau ibu kota provinsi dan kabupaten saja, sehingga pemerintah perlu mengembangkan akses lanjutan ke tingkat pelosok.

“Palapa Ring itu backbone, tapi kan ada daerah di-remote, jadi ya sudah pakai satelit yang itu (yang akan dilelang). Kalau di gunung, menarik kabel kan tidak mudah, pakai satelit paling cepat. Berbeda teknologinya,” imbuhnya.

Sayangnya, Rudiantara belum menghitung secara detail nilai satelit yang akan dilelang tersebut. Apalagi, pemerintah masih belum tahu jumlah satelit yang diluncurkan. Tapi, berkaca pada satelit Palapa Ring, total nilai yang dikucurkan bisa mencapai Rp19 triliun.

“Kami masih hitung apakah nanti dua, tiga satelit, atau tiap tahun berturut-turut akan ada satu satelit. Karena ini besar, ada 130 ribu titik yang harus dihubungkan,” paparnya. (eks)

Sumber:https://www.cnnindonesia.com/teknologi/20171213120349-213-262070/kemenkominfo-buka-lelang-satelit-pemerintah-tahun-depan

Mencegah Kehamilan di Luar Nikah

0

Jakarta, CNN Indonesia — Tangan halus dan lucu
Tlah mengangkat diri ini
Jiwa raga dan seluruh hidup
Rela dia berikan

Sepenggal lagu dari Melly Goeslaw yang berjudul Bunda ini mengingatkan akan perjuangan seorang ibu. Sejak kecil, ibu yang berperan besar mengenai tumbuh kembang anaknya. Mulai dari masa kehamilan, melahirkan, hingga membesarkan. Ibu yang mengurus, sedangkan ayah hanya berurusan dengan urusan luar.

Bagaimana dengan ibu yang tidak menginginkan kehadiran bayinya? Kemungkinan terjadi aborsi sangat besar. Pada tahun 2010 hingga 2014, ada 56 juta wanita di dunia yang menggugurkan bayinya. Hal tersebut biasanya diakibatkan hamil di luar nikah.

Hamil di luar nikah biasanya diakibatkan oleh kurangnya pengawasan orangtua terhadap anaknya. Namun tidak seratus persen akibat kurangnya pengawasan orangtua. Biasanya juga justru karena pengawasan yang terlalu ketat, anak jadi penasaran dan membangkang, sehingga melakukan hal-hal yang dilarang.

Dilansir dari Rappler.com, data dari Pusat Studi Kependudukan dan Kebijakan (PSKK) Universitas Gadjah Mada menyebutkan bahwa 58 persen remaja perempuan yang hamil di luar nikah, berusaha menggugurkan kandungannya dengan cara aborsi. Para remaja mengaku tidak mengetahui informasi yang cukup mengenai kesehatan reproduksi dan seksual. Keterbatasan informasi tersebutlah yang menyebabkan terjadinya kasus hamil di luar nikah kerap menimpa remaja perempuan.

Remaja perempuan biasanya memiliki jarak terhadap orangtuanya mengenai masalah kesehatan reproduksi. Pembicaraan mengenai kesehatan reproduksi masih menjadi hal yang tabu. Anak akan dihakimi jika menanyakan hal tersebut. Hal ini disebabkan oleh kurangnya keterbukaan informasi mengenai seks sejak dini.

Remaja perempuan tidak memiliki tempat untuk menjadi penampung cerita, untuk menceritakan hal-hal pribadi kepada orang lain. Mereka terkadang terbuai dengan omongan laki-laki yang begitu manis. Ketika sudah terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, hanya sebagian kecil dari laki-laki tersebut bertanggung jawab. Saat laki-laki sudah pergi menjadi tidak bertanggung jawab, remaja perempuan tersebut akan mengambil jalan pintas dengan menggugurkan kandungannya.

Kementerian Kesehatan pada 2003 sudah mempunyai program Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja (PKPR) untuk melayani kesehatan remaja. Layanan yang disediakan PKPR adalah konseling secara privat, aman, dan nyaman. Pemeriksaan bagi remaja yang hamil juga disediakan, kasus HIV/AIDS, juga penyakit menular.

Layanan dari pemerintah tersebut sudah baik. Namun, seharusnya keterbukaan informasi mengenai seks sudah diberikan oleh segala pihak. Seperti sex education, seharusnya diberikan sejak Sekolah Menengah Atas (SMA), umur remaja SMA sudah memasuki umur yang siap memahami masalah seks.

Keterbukaan informasi mengenai seks sudah harus diberikan sejak dini, agar tidak terjadi kesalahan dalam berpikir atau logical fallacy terhadap apa yang akan dilakukan. Rasa penasaran remaja juga biasanya menjadi penyebab terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan tersebut.

Calon ibu, jika sudah melakukan aborsi, mental dari remaja perempuan tersebut akan berbeda dengan mental remaja perempuan lain yang belum melakukan aborsi. Maka, tingkat aborsi di Indonesia harus mendapatkan penanganan yang serius. Tidak hanya dengan jalur hukum saja, namun pihak-pihak lainnya juga harus ikut terlibat. Orangtua dalam kasus ini berperan penting untuk keterbukaan informasi mengenai seks. Biar bagaimanapun juga, remaja perempuan tersebut merupakan calon ibu.

Orangtua harus menjadi orang pertama yang tahu saat remaja perempuan mengalami hal ini. Orangtua juga seharusnya tidak menghakimi saat sudah terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Orangtua juga harus memberikan saran atau keputusan yang hanya memikirkan pembicaraan orang lain tanpa memikirkan kesehatan dari anak perempuannya.

Remaja perempuan tersebut juga harus bisa menjaga dirinya sendiri. Jangan mudah terbuai dengan omongan manis laki-laki. Lalu, jadikan orang tua sebagai tujuan utama saat hal-hal buruk terjadi, jangan gegabah mengambil keputusan. Biar bagaimanapun juga remaja perempuan akan menjadi ibu di kemudian hari.(ded/ded)

Sumber:https://student.cnnindonesia.com/inspirasi/20171212135510-454-261827/mencegah-kehamilan-di-luar-nikah

Studi Temukan Fakta Wanita Lebih Fit dari Pria

0

Studi kecil yang dilakukan peneliti Kanada menemukan bahwa perempuan lebih fit atau berdaya tahan tubuh lebih baik dari pria. (Foto: Thinkstock/ElNariz)

Jakarta, CNN Indonesia — Sebagian orang sering memandang sebelah mata kemampuan seorang wanita. Mayoritas menganggap pria jauh lebih kuat dan cepat dibandingkan wanita. Namun, dalam jurnal penelitian yang diterbitkan oleh Applied Physiology baru-baru ini menyatakan bahwa wanita ternyata lebih fit dari pada pria.

Dilansir dari laman Heatlh, peneliti dari Universitas Waterloo, Kanada melakukan penelitian terhadap sembilan pria dan sembilan wanita yang berusia 18-30 tahun dengan berat badan yang setara.

Para partisipan ini diminta untuk berjalan di atas treadmill. Setelah melakukan pemanasan singkat, mereka diminta untuk berjalan di atas treadmill dengan kecepatan yang meningkat secara perlahan. Peneliti mengukur berapa banyak oksigen yang digunakan dan berapa banyak karbondioksida yang dihasilkan dengan menggunakan topeng wajah (masker).

Profesor Kinesiologi dari Universitas Waterloo, Richard Hughson mengatakan: “Penelitian ini secara spesifik mengukur seberapa cepat meningkatnya ambilan oksigen dari saat istirahat sampai beralih pada saat latihan/olahraga berikutnya”.

Richard juga menambahkan, ketika tubuh seseorang sedang tidak fit, maka tubuhnya akan lebih lambat beradaptasi untuk berolahraga, kondisi tubuh juga akan semakin menurun.

Mengukur ambilan oksigen ini merupakan indikator yang tepat untuk melihat kebugaran fisik secara keseluruhan. Dari penelitian tersebut menyatakan bahwa wanita akan menyesuaikan tubuhnya untuk berolahraga setelah 30 detik, sedangkan pria membutuhkan waktu 42 detik. Itu berarti tingkat pemrosesan oksigen 30 persen lebih cepat dan hal tersebut menyangkut efisiensi fisik.

“Kebugaran dapat ditentukan oleh kekuatan aerobik maksimal, atau bisa juga oleh indikator lainnya, misalkan jika anda bisa memonitor seberapa cepat seseorang beradaptasi untuk latihan fisik ke tingkat berikutnya, itu akan menjadi indikasi akan kebugaran dan kesehatan juga,” ujar Hughson.

Ke depannya, peneliti lain Thomas Beltrame mengungkapkan, tim peneliti berencana meluaskan penelitian dengan melibatkan partisipasi atlet, bukan sekadar berolahraga untuk rekreasi.

“Di masa mendatang, penelitian membutuhkan penentuan hasil dari partisipan baik pria dan wanita yang aktif, yang benar-benar sesuai dengan kebugaran, untuk menemukan siapa yang lebih fit di antara pria dan wanita, lebih tepat,” ungkap Beltrame lewat surat elektronik pada Health. (cel/rah)

Sumber:https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20171213113250-255-262045/studi-temukan-fakta-wanita-lebih-fit-dari-pria

FDA: Sprinkle Perak Hanya Dekorasi Tak Untuk Dimakan

0

Lembaga kesehatan Amerika (FDA) mengumumkan bahwa taburan perak atau silver sprinkle ternyata tidak aman untuk dimakan karena alasan kesehatan.(Foto: Thinkstock/RuthBlack)

Jakarta, CNN Indonesia — Siapa yang tak bakal tergoda dengan aneka kue kering dengan warna-warni cantik di pesta Natal?

Sekalipun tergoda, Anda harus tetap mengontrol jumlah kue yang masuk ke dalam perut. Kandungan karbohidrat dan gula dalam kue kering yang terlalu banyak bisa berbahaya untuk kesehatan.

Namun kenyataannya, kue-kue kering bukan hanya masalah kalori tapi juga soal makanan yang berbahaya.

The Food and Drug Administration (FDA) mengungkapkan bahwa salah satu ‘aksesori’ kue kering yang membuat kue terlihat cantik ternyata tak semuanya aman untuk disantap.

Aksesori kue kering yang dianggap tak sehat adalah sprinkles atau taburan mirip beads di atas kue, terutama yang memiliki warna perak.

Mengutip The Daily Meal, dekorasi kue sprinkles berwarna perak ternyata tidak disetujui sebagai makanan yang aman disantap.

Taburan dekoratif yang berlapis perak ini kerap dipakai sebagai penghias aneka kue kering ataupun cake. Bentuknya yang bulat sempurna dan berkilau dianggap sesuai untuk ‘memeriahkan’ kue.

Hanya saja, FDA mengklaim bahwa sprinkle perak ini sudah masuk dalam daftar ‘terlarang’ sejak tahun 1906. Saat itu taburan dekoratif berwarna perak ini sudah dilarang untuk jadi bahan tambahan makanan.

Namun di tahun 1970 dunia kuliner ‘tertangkap basah’ menggunakan taburan dekoratif berwarna perak ini untuk menghias makanan. Tak cuma itu, ada juga orang yang menggunakan taburan ini pada lapisan yang sangat tipis.

Kecurangan-kecurangan nakal ini akhirnya mendorong FDA untuk mengungkapkan bahwa sprinkle ini hanyalah sekadar dekorasi dan tidak bisa dimakan.

Sekalipun taburan ini masih bisa ditambahkan di atas kue kering, namun Anda harus melepaskan semua taburan ini sebelum dimakan.

Mengutip Baker’s Kitchen dari WHDH, taburan berwarna perak ini memang memiliki lapisan gula yang membuatnya terasa manis. Hanya saja kandungan lapisan perak ini membuat mereka tak aman dimakan. (chs)

Sumber:https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20171213164839-262-262148/fda-sprinkle-perak-hanya-dekorasi-tak-untuk-dimakan

Kuliah Tamu Enterpreneurship & Leadership

Kuliah Tamu Enterpreneurship & Leadership Bersama Md. Sabur Khan, Chairman of Board of Daffodil International University, Bangladesh

Pada Selasa, 12 Desember 2017, lalu bertempat di Hall Ign. Washington Purba, Universitas Sari Mutiara Indonesia, diadakan kuliah tamu yang membahas hal-hal berkaitan dengan kewirausahaan dan kepemimpinan. Hadir sebagai pembicara adalah Md. Sabur Khan yang merupakan pemilik Dafoddil International University, Bangladesh. Kegiatan kuliah tamu tersebut dihadiri oleh Bapak Karnirius Harefa, S.Kp., S.Pd., M.Biomed (Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan), Ibu Rinawati Sembiring, S.Si.T., M.Kes. (Wakil Rektor Bidang Kerja Sama), Ibu Elisabeth Sihaloho, S.E., M.M. (Dekan Fakultas Ekonomi dan Ilmu Sosial),  para dosen, serta kurang lebih 500 mahasiswa dari berbagai program studi. Kegiatan tersebut dibuka dengan kata sambutan oleh Dekan Fakultas Ekonomi dan Ilmu Sosial, Ibu Elisabeth Sihaloho, S.E., M.M. Kegiatan kuliah tamu tersebut berjalan dengan interaktif dan mengundang antusiasme yang tinggi dari mahasiswa. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya pertanyaan yang diajukan oleh mahasiswa kepada narasumber.

Riset Ilmiah Ala Siswa SMA 8 Jakarta di Tasikmalaya

0

Persiapan kegiatan Temu Ilmiah dan Bakti Sosial SMA 8 Jakarta, Senin (11/12). (UGC CNN Student/Suradi)

Jakarta, CNN Indonesia — Tradisi riset dan penelitian ilmiah terus disemaikan di SMAN 8 Jakarta agar para siswa lebih siap ketika menjadi mahasiswa, di samping menanamkan kecintaan pada riset dan penelitian –baik yang eksak maupun sosial- sejak dini. Untuk itu sebanyak 359 siswa kelas XI atau kelas 2 akan melakukan kegiatan Temu Sosial Ilmiah Smandel atau Tesis.

Tesis tahun ini akan dilakukan di Kampung Sukaruas, Desa Sukaraja, Rajapolah, Kabupaten Tasikmalaya, Jabar, 14–17 Desember 2017. Para siswa akan dibagi ke dalam kelompok antara 5-8 orang dan selama di Tasikmalaya, mereka tinggal di rumah-rumah penduduk. Jadi, kegiatan ini juga melibatkan masyarakat setempat dan para tokoh masyarakat.

Kepala Sekolah SMAN 8 Jakarta, Agusman Anwar ketika acara Tecnical Meeting, Senin sore (11/12) mengatakan, para siswa akan menghadapi suasana lain yakni kehidupan masyarakat desa dengan segala kesederhanaan dan kearifannya. “Jadi, kalian harus mampu menyesuaikan diri tinggal dan melakukan penelitian di desa,” katanya.

Agusman pada kesempatan ini juga mengingatkan agar para siswa jujur dalam melakukan penelitian dan juga jujur dalam menghadapi setiap masalah ketika berada di Tasikmalaya. Dan yang terpenting, “Jadilah Rajawali Emas sejati,” katanya sambil memekikkan tiga unsur konsep Rajawali Emasnya, yakni cerdas, tangguh, dan peduli.

Sementara itu Ketua Panitia Tesis, Dyah Farmasita mengatakan, tema Tesis tahun ini yaitu “Menyatu dengan Alam, Membaur dengan Masyarakat, Mencetak Generasi Emas yang Cerdas, Tangguh, dan Peduli.” Sebanyak 25 guru akan mengawal dan mendampingi selama kegiatan tersebut.

Tesis SMAN 8 Jakarta bekerjasama dengan penduduk kampung kreatif Sukaruas. Selain siswa-siswi akan berbaur dengan masyarakat desa, mereka juga melakukan penelitian mengambil tema penelitian yang relevan dengan kehidupan masyarakat desa tersebut. Dalam salah satu programnya di kegiatan Tesis tahun ini, siswa siswi akan mengenalkan program Rumah Baca di kampung tersebut sebagai langkah nyata kepedulian SMAN 8 Jakarta untuk menerapkan program “Literasi masuk desa”.

Selain itu Tesis 2017 kali ini turut serta mendukung Gerakan Masyarakat (Germas) Kesehatan dan literasi keuangan yang sedang gencar digaungkan pemerintah dan swasta. Oleh sebab itu mereka mengundang dinas kesehatan setempat dan Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Tasikmalaya ke baksos itu.

Terobosan Pembelajaran
Sekretaris Komite SMAN 8 Jakarta, Suradi mengungkapkan sejarah kegiatan Tesis sebagai kelanjutan dari riset-riset per seksi kegiatan di sekolah. Awal tahun 2000-an SMA Negeri 8 Jakarta melakukan terobosan besar dalam kegiatan pembelajaran di luar sekolah.

Sadar pada masa itu banyak sekolah yang mengadakan kegiatan wisata berkunjung ke wilayah lain, SMAN 8 justru mengajak para siswa untuk mengunjungi desa-desa yang mempunyai kearifan lokal. Para siswa akan melakukan penelitian, bersosialisasi kehidupan keseharian, dan menimba karakter budi.

Kegiatan yang berlangsung selama 4 hari dengan persiapan yang lebih dari 3 bulan tersebut memberi banyak konsekuensi kepada para siswa. “Pada kegiatan Tesis ini, para siswa akan mempersiapkan desain penelitian kecil yang merupakan sebuah karya ilmah yang akan dipaparkan di hadapan para guru penguji,“ katanya.

Proposal yang mereka buat sudah dibina oleh guru Bahasa Indonesia dan pembina OSIS. Proposal penelitian yang baik menuntut para siswa untuk mencari sumber bahan penelitian, buku-buku ilmiah populer, buku penelitian ilmiah, bahkan buku-buku teknik pengukuran dan uji sampel menjadi sebuah hal yang biasa mereka baca.

Karya ilmiah itu nantinya akan diuji oleh penguji internal (guru SMAN 8 Jakarta) dan penguji eksternal (dosen/praktisi) yang diharapkan meningkatkan kualitas karya tulis ilmiah para siswa. Serangkaian acara sosialisasi dan pembekalan yang melibatkan dosen serta pemerhati pendidikan juga diadakan. Dr. dr. Tri Edhi Budhi Soesilo, MSi ikut memberi pembekalan dalam rangka pemantapan judul karya Ilmiah. (ded/ded)

Sumber:https://student.cnnindonesia.com/edukasi/20171212082748-445-261740/riset-ilmiah-ala-siswa-sma-8-jakarta-di-tasikmalaya

- Advertisement -